Thursday, 18 May 2017

Narasi Kebahagiaan

Pikiran saya sore ini agak mengacau
Saya yakin karena kurang tidur yang berkualitas
Di tengah-tengah pencarian dalam hidup saya
Otak ini mengajukan satu kata abadi
Kebahagiaan

Apa yang terlintas dalam benakmu?
Berkumpul bersama orang-orang yang kau cintai?
Mendapatkan nilai terbaik di kelas?
Dikaruniai anak anak saleh dan saleha?
Wisata kuliner di padatnya ibukota?
Apa kebahagiaan itu ada nilainya?
Apa kebahagiaan itu ada standarnya?
Apakah kebahagiaan itu semu belaka?

Kita mengenal kata ini sejak kita mengenal kata
Mendengarnya dari kedua orang terkasih yang sabar menunggu kita ucapkan kata pertama
Tapi apakah semua orang mendapatkannya di waktu yang sama?
Apakah semua orang menyadarinya ketika dia datang?

Coba kita tengok sekejap di layar televisi
Atau, ponsel berkameramu yang terkoneksi internet 24 jam seminggu
Ada mereka yang negerinya dihujani rudal rudal tanpa henti
Ada mereka penjaja dagangan berusia renta yang masih diliput kemalangan
Bayangkan saja, masih ada orang muda yang memberi mereka uang palsu
Membayangkannya saja membuat saya jijik dengan manusia

Ada mereka anak-anak kicik membawa gitar mungil lalu menyanyi lirik lirik melodi
Tidak bagus suaranya
Seringkali saya tidak ada respek
Bukan ke mereka
Tapi pada orang tua mereka
Mereka berhak bermain dan bergurau dengan kawan sepermainan mereka
Bukan di macetnya kota bermandikan polusi karbon monoksida
Mereka harusnya ada di sekolah
Mengenal budi pekerti
Memahami makna “maaf”, “permisi”, “terima kasih”
Bukan mengucap hewan-hewan peliharaan hanya untuk memanggil pengamen jalan
Bukan jarang pula melontarkan kata kata kasar pada penumpang bus kota
Alamak, mengerikan sekali negeri ini
Apakah mereka bahagia?
Mungkin saja
Karena mereka dipaksa untuk itu di kondisi mereka
Membayangkan kondisi ini membuat saya jijik dengan manusia

Ada mereka penjual kopi jalanan
Mereka keluar di malam hari
Bila kau tak percaya, coba saja berjalan di kawasan Kuningan
Di saat kau mencoba pulang dari ganasnya jalan raya
Mereka bertebaran dengan mengayuh sepeda tua
Dengan berbagai macam kopi dan minuman sachet di belakangnya
Mereka mengeluh, mungkin saja
Tanpa bertanya, saya tahu jawaban mereka
“Cari kerja susah, Mas”
“Buat ngidupin anak istri, Mas”
“Gak ada modal gede, Mas”
Dan beribu alasan lain
Seringkali saya ingin mengeluarkan pocket camera untuk sekadar memotret wajah mereka
Tapi saya tidak bernyali
Apa mereka bahagia?
Mungkin saja
Bersyukur saja meeka masih bisa terbahak bahak di atas gitar bersama pengemudi ojek online
Mereka harusnya bisa lebih baik
Namun, saya tidak punya daya saat ini
Sialan, saya jijik pada diri sendiri

Bagaimana dengan orang-orang yang tinggal di kawasan terpencil itu?
Kampung nelayan yang saya datangi bertahun-tahun lalu
Astaga, bagaimana mereka bisa bertahan?
Saya ingat teriknya matahari bercampur udara kering berpasir menyapu sekujur tubuh
Mereka bahkan tidak punya toilet
Apa mereka bahagia?
Mengapa tidak?
Mungkin definisi kebahagiaan mereka adalah ketika para ayah yang membawa hasil laut melimpah
Atau, sekedar menyambut saya dan kawan-kawan yang mungkin hanya membawa sedikit pertolongan
Entahlah, saya tidak bertanya.

Hidup ini memang menyiksa orang-orang yang bertanya
Padahal, kami hanya ingin jawaban
Jawaban yang bisa jadi tidak memberikan kami kepuasan setimpal
Namun, selalu layak untuk diperjuangkan
Bukan jawaban yang terbaik
Namun, bisa jadi memberikan saya seberkas kebahagiaan.

…………………………………………………………………………………………

Ah, dia datang juga
Orang yang saya tunggu lama
Bahkan saya tidak sadar bahwa saya lupa menambahkan gula ke cappuccino saya
Baiklah, besok-besok saja lagi merenungnya….




*Ditulis di tengah keramaian kedai kopi di kawasan Menteng, April 14 2017, menunggu orang….

Read More......

Thursday, 9 March 2017

A Man in Sydney - Part 2

Chapter 2: Bajram Serif Mubarek Olsun...!

Ramadhan is back! Bulan yang pernuh berkah telah kembali. Bulan yang selalu dirindukan oleh umatNya. Bagi saya sendiri, bulan Ramadhan selalu membawa memori penting dalam hidup saya, setidaknya hingga saat ini. Seketika memasukinya, saya selalu terbawa nostalgia dengan momen-momen berkesan di dalamnya. Saya teringat dengan masa-masa dimana sahur keluarga ditemani dengan acara Sahur Kita yang saat itu dibawakan oleh Eko Patrio dan Ulfa Dwiyanti, acara yang dikenal dengan kuis pantun dan klip-klip singkat dari single pilihan. Menjelang maghrib, saya besar bersama acara Asep Show yang menampilkan tokoh wayang Cepot dan ditemani dengan para bintang tamu. Acara ini begitu berkesan dalam masa kecil saya sehingga saya cukup kaget ketika Asep Sunarya, Sang Dalang, meninggal 3 tahun lalu. Lalu, jangan lupa dengan sinetron Lorong Waktu yang dibintangi Jourast Jourdi, Dedi Mizwar, Adjie Pangestu (digantikan dengan Dicky Chandra di musim berikutnya), dan Christy Jusung. Sama seperti film Dedi Mizwar lainnya, Lorong Waktu merupakan tayangan positif bagi keluarga. Tarawih di masjid komplek mengakhiri hari yang imamnya tidak jauh dari H. Muslih Nashoha, MM. Saya ingat sekali surat favorit beliau adalah Al Insyirah. Namun bagi saya yang saat itu masih kecil, tarawih akan jadi “mimpi buruk” bila yang menjadi imam sekaligus penceramah adalah KH. Ishak Iskandar. Dijamin tidak bisa pulang cepat. Hehe…

Ya, memori-memori itu bergaung ketika musim dingin di Sydney juga beriringan dengan Ramadhan 1437 Hijirah. Suasana berbeda tentu sangat berasa. Meski saya tahu ada kawan-kawan Indonesia saya di sini, tetapi tetap saja saya tidak akan bisa menghabiskan dan memanfaatkan Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada keluarga dan teman-teman karib yang menemani. Tidak ada tayangan Ramadhan di televisi. Tidak ada buka puasa subsi-subsi. Dan, tidak ada momen lainnya. Makanan sahur dan berbuka pun semua saya persiapkan sendiri. 

Di balik ini semua, saya tetap bersyukur bahwa saya tinggal di “kelurahan” dengan mayoritas penduduk muslim di Sydney. Pasar Maghrib yang biasa saya temukan di jalanan Pancoran juga dapat saya temukan di sini, menandakan bahwa kultur Ramadhan yang tidak jauh berbeda. Bedanya, tidak ada aneka gorengan, cendol, es buah, atau makanan Indonesia lainnya. Mayoritas makanan yang dijual di sepanjang Haldon Street adalah makanan dari kawasan Asia Selatan, Lebanon, dan sedikit panganan Melayu. Saya tidak terlalu paham nama dari beberapa makanan yang saya beli, tetapi di antaranya ada samosa, beef curry, murtabak, dan sate (yang ini saya beli dari Halal Supermarket, toko Indonesia di Lakemba). Harganya bervariasi, dari AUD 2.00 hingga AUD 10.00. Saya beruntung karena lidah saya memang cocok dengan kuliner Asia Selatan. Namun tetap saja, saya masih merindukan jajanan Indonesia. Salah satu hari saya mengundang Fikri dan Mbak Tia untuk wisata kuliner di Lakemba dan berbuka puasa di kediaman saya. Kami pun memborong banyak makanan, berbincang sambil bermain poker, yang berlangsung sampai malam.

Wisata Kuliner bersama Mbak Tia & Fikri


Penjual Murtabak a la Malaysia di Haldon St.

Hasil Buruan Pasar Maghrib untuk Ifthar

Cobaan yang sebenarnya adalah ketika saya ingin mendirikan salah satu ibadah Ramadhan andalan saya, salat tarawih. Tentu, saya keinginan saya adalah tidak ada cela saya tinggalkan selama 30 hari penuh dimana mayoritasnya saya lakukan di masjid. Namun dinginnya suhu udara ambient saat winter membuat sebagian besar ibadah tarawih saya lakukan di rumah. Ditambah lagi di awal-awal Ramadhan, saya masih disibukkan dengan deadline tugas-tugas kuliah dan persiapan ujian akhir semester untuk Intro Biostatistics dan Epidemiology. Saya bersyukur di sepertiga akhir Ramadhan, saya bisa memaksimalkan waktu untuk tarawih di Masjid Lakemba meski harus melawan udara 6 derajat di pukul 7.00 pm. 

Ujian Akhir Semester Intro Biostats di MacLaurin Hall

Di antara hari-hari Ramadhan itu, ada kalanya saya berbuka puasa di mushalla kampus, di Old Teacher’s College Building. Sejak 30 menit sebelum azan Maghrib, mushalla sudah mulai diramaikan dengan kehadiran mahasiswa-mahasiswa muslim dari berbagai negara. Awalnya, kehadiran saya diinspirasi oleh Audy dan Mbak Tia yang lebih dahulu berkesempatan untuk berbuka puasa di mushalla kampus. Menu yang ditawarkan biasanya tidak lepas dari makanan Timur Tengah dan Asia Selatan, seperti nasi briyani dan charcoal chicken. Di sisi lain, saya merasa perlu untuk merasakan berbuka puasa di kampus karena bisa jadi tidak ada kesempatan lain yang serupa. Bahkan ada momen dimana saya diminta menjadi imam salat tarawih, berbagi kesempatan dengan kawan lain pengurus Sumsa. Setelah menyanggupi 12 rakaat awal dan menyelesaikan 23 rakaat, saya pulang dengan membawa 1 porsi charcoal chicken dari cukup banyak yang tersisa dari buka puasa hari itu.

Pada malam takbiran, 5 Juli 2016, saya, Fikri, dan Mbak Tia diundang untuk makan malam di kediaman Johan dan istri di Todman Avenue, Kensington. Saya tiba paling akhir dan bertepatan azan Maghrib. Maka sejenak setelah membatalkan shaum terakhir di bulan itu, kami menunaikan ibadah Maghrib. Kami berencana untuk memasak beef steak di malam itu. Namun sebelumnya, kami berkesempatan untuk menikmati soto ayam karya dari Rizka. Setelah itu, saya memulai untuk memperagakan sedikit skill atau tips and tricks dalam memasak steak. Dengan bahan-bahan yang relatif simple seperti daging sapi secondary cut, bawang putih, unsalted butter, minyak zaitun, dan tidak lupa dengan garam-merica, kami mampu membuat steak kualitas hotel bintang 5. Kami melanjutkan dengan bermain kartu poker. Sekitar pukul 10 malam, kami pulang ke kediaman masing-masing untuk mempersiapkan diri menyambut hari raya keesokan harinya.

Malam Takbiran di Kediaman Johan & Rizka

Meskipun berniat berangkat lebih awal ke masjid untuk salat subuh dan ‘Ied, saya akhirnya berangkat terlambat. Dan, saya telah sadar sejak awal bahwa ini kesalahan fatal. Tidak terpengaruh dengan fakta bahwa ini akan menjadi pengalaman pertama saya menghabiskan hari raya di negeri orang, saya sudah percaya bahwa masjid akan ramai dikunjungi jamaah dari berbagai penjuru kota. Apa yang terjadi kemudian pun memang sesuai dengan prediksi saya. Wangee Road yang telah ditutup demi kepentingan ibadah sudah disesaki banyak orang, menandakan area masjid sudah tidak mungkin dimasuki. Saya pun akhirnya salat di jalan raya yang saat itu telah beralaskan terpal. Saya bersyukur karena saya membawa praying mat sendiri dari rumah. Dengan berjaket dan berpakaian tebal, saya harus mampu menunaikan salat plus mendengarkan khutbah (saat itu cukup panjang karena ada tamu dari anggota dewan Lakemba) di tengah dinginnya Sydney. Tidak lupa saya mengambil beberapa foto dan video untuk merekam hangatnya suasana Idul Fitri di Masjid Lakemba. Saya baru meninggalkan lokasi setelah mendengarkan pesan-pesan yang disampaikan dari para anggota dewan. Hal keren yang terjadi di sini adalah isi khutbah Ied yang menyampaikan pentingnya diversitas sebagai bekal kekayaan Sydney dan Australia serta mengutuk aksi Islamophobia dan rasisme yang masih sering ditemui dan ditunjukkan beberapa tokoh politik di negeri Kanguru. Salah satu yang masih menjadi sorotan hingga saat ini adalah Pauline Hanson. Kebijakan dan ide yang diusungnya akan langsung mengingatkan kita dengan presiden USA saat ini, Donald Trump, tetapi lebih menyebalkan. Saya hanya bisa berdoa semoga kekayaan kultur yang ada di Sydney dan Australia tetap terjaga.

Suasana Wangee Road sebelum Salat 'Ied

Sepulang dari Masjid Lakemba, saya memutuskan untuk rehat sejenak sambil menunggu komunikasi dari Fikri atau Mbak Tia. Kami memang berencana untuk mengunjungi kediaman teman-teman asal Indonesia yang ada di Sydney, salah satunya adalah kediaman Mbak Ijan. Namun karena ada misskomunikasi, ibadah salat Ied di Campsie lebih cepat selesai dan kawan-kawan yang berkunjung dari Glebe sudah beranjak ke kediaman Mas Leo dan Mbak Kezia. Tersisa saya dan Mbak Tia di kediaman Mbak Ijan. Saya pun memutuskan untuk sedikit lebih lama di sana sambil menikmati sajian kuliner lebaran yang ada. Setelah itu, saya dan Mbak Tia berangkat menuju kediaman Mas Leo dimana sudah sangat ramai dengan para tamu. Berbagai makanan dan minuman juga tersedia, dari charcoal chicken dengan toum (garlic sauce ala Lebanon), rendang daging, dan sambal Mbak Kezia yang luar biasa itu. Di rumah ini lah saya bertemu dengan genk Glebe juga Mas Dani dan Mbak Sinta. Sekitar pukul 13, saya pergi ke Campsie Centre untuk belanja kebutuhan memasak rendang dan opor ayam. Untuk apa? Saya akan mengadakan open house kecil-kecilan besok harinya.

Setelah istirahat siang sebentar, saya mulai menyiapkan bahan-bahan halus untuk rendang daging dan opor ayam. Rendang daging menjadi makanan yang didahulukan. Dengan kata lain, saya akan melewati malam 2 syawal dengan begadang. Sebut saja ini sebuah “syarat mutlak”, proses merendang harus dilakukan sepenuhnya di kala matahari belum terbit di ufuk timur. Mungkin tidak ada basis sains, tetapi kondisi ini diyakini mampu membuat hasil proses merendang menjadi sangat enak. Untuk opor ayam, saya baru memasaknya di sore hari menjelang kedatangan Fikri, Mbak Tia, dan Johan. Dan ternyata memang benar, Fikri dan Mbak Tia mengetuk pintu kediaman saya ketika potongan-potongan ayam sedang digoreng. Kesempatan ini saya jadikan momen untuk berbagi sedikit pengetahuan kuliner dengan mereka berdua. Berbagai rempah utuh dan bumbu halus saya perkenalkan agar mereka berdua mulai terbiasa dengan kekayaan kuliner ini. Perhatian mereka berdua tidak luput dari tudung saji berwarna merah di atas meja serbaguna. Mereka menemukan harta karunnya, rendang daging yang telah siap untuk disantap bersama. Sedikit dive in, saya tahu bahwa saya berhasil mereka bahagia dengan persembahan sederhana saya. Alhamdulillah, mereka menyukainya. Lalu, Fikri membantu saya menyelesaikan pemasakan opor ayam, sedangkan Mbak Tia membuat rekaman video dan mengambil beberapa dokumentasi foto. Sambil menanti kedatangan Johan dari laboratorium kampus, saya menurunkan panas dari hot plate secara perlahan, menandakan opor ayam masuk ke tahapan slow cooking. Ketidaksabaran Mbak Tia untuk segera melahap sajian malam ini baru berakhir setelah Maghrib. Saya menjemput Johan di depan rumah. Mbak Tia menjadi orang pertama yang mengambil porsinya. Dan, kami akhirnya makan sajian hangat ini di tengah dinginnya hujan. Sambil bersenda gurau, kami bermain kartu poker hingga sedikit lupa waktu. Setelah membungkus opor ayam dan rendang daging, Fikri, Mbak Tia, dan Johan pulang ke rumah masing-masing. Opor ayam yang dibawa Johan tentu saja untuk sang istri yang berhalangan hadir di open house ini karena sakit. Melalui WA, Rizka menyampaikan rasa terima kasih.

Open House pada Hari Kedua Lebaran

Sesepi apapun suasana Ramadhan ini, tetap saja menjadi memori dan pengalaman berharga dalam hidup saya. Tiada satu pun manusia beriman yang tahu apakah dia akan bertemu kembali dengan Ramadhan selanjutnya. Namun, saya akan tetap berharap ada usia yang menjembatani hari ini dan 3 bulan yang akan datang. Saya menanti memori lain yang akan ditanam. Mungkin ada cerita Ramadhan baru di pantai, gurun savannah, atau pesisir sungai. Atau mungkin, kembali ke Masjid At Ta’awun…. ^^ 


 -to be continued- 


 *Tulisan ini berasal dari perspektif pribadi. Bila ada kesalahan yang tidak disengaja atau pun disengaja, harap dimaafkan. Semoga bisa kembali di tulisan berikutnya.

Read More......

Friday, 3 March 2017

Kabar dari Malam

Hai...
Apa kabarmu...?
Kulihat kau berjalan tertatih
Kuharap hanya perasaanku saja

Hai...
Apa kabarmu...?
Ku mendengar kau terbatuk-batuk
Kuharap itu hanya sementara

Setahun lamanya kita tidak bertatap
Dua belas bulan panjang membuat kita tak saling berdampingan
Ini salahmu dan kau meminta maaf
Ini salahku dan ku keras kepala

Kau yang hantuiku setiap malam
Tidak bisa tidur, tidak mampu lelap
Kini, aku menjagamu sangat dekat
Mencoba membuatmu tenang bila sakit itu menyerang

Aku masih menanti ceritamu
Bukan cerita ini
Tapi cerita itu
Yang datang dari dalamnya lubuk dirimu

Sungguh aneh semua tidak mengalir
Seakan masih ada kerikil yang menghalangi
Kata-katamu dan telingaku
Pikiranmu dan hatiku

Aku tidak ingin tidur malam ini
Tidak bisa, lebih tepatnya
Dalam heningnya malam
Hanya papan putih dan kipas angin ajakku bicara

Aku tidak ingin tidur malam ini
Karena setiap detik ini
Aku tidak ingin lagi kehilangan momen
Aku tidak ingin lagi kehilanganmu

Hai...
Semoga kau nyenyak
Izinkanku menghantuimu
Hingga fajar menjelang.


Ditulis pada Jumat dini hari, 3 Maret 2017, 21 tahun...

Read More......

Friday, 10 February 2017

Selamat Malam, Ramai...

Selamat malam, kota yang ramai
Tetesan hujan deras menderai tubuh
Kilauan kerlip lampu di padatnya keramaian
Aku menyimpan kenangan lalu

Adalah aku merindukanmu
Nestapa menumpuk seiring jalan waktu
Adalah aku menyimpan tanya
Berkhayal akan satu temu

Aku lalui jalan setapak
Yang pernah lazim di masa lalu
Tiada tanda akan hadirmu
Mungkin tertutup semarak

Adalah kau tak pernah hilang
Kau hidup tapi menghantui
Jangan memintaku untuk menghitung hari
Aku tidak bisa tidur

Panggil aku, seperti dulu
Tahun-tahun terbaik dalam hidupku
Panggil aku, panggil lagi
Biar kulihat lagi senyum itu

Hari sudah larut malam
Mari bertemu saja
Agar kau tak lepas lagi....

Read More......

Friday, 30 December 2016

A Man in Sydney - Part 1

A Man in Sydney
Chapter One: A New Beginning

Tidak terasa bahwa waktu saya di Selatan Bumi yang indah ini akan segera berakhir. Musim panas pun telah meyambut hari—hari. Keadaan ini sama dengan yang saya temui saat pertama kali berpijak di Sydney tanggal 16 Februari 2016 lalu. Mungkin, panas 37 derajat nya sama dan mewakili antusiasme diri saya saat itu. Antusiasme dari seorang yang diberikan kesempatan lebih oleh orang lain. Dan, saya sangat sadar bahwa semua akan berbeda dari apa yang selama ini saya dapatkan di Jakarta.

Saya tidak percaya dengan konsep keberuntungan. Namun bila diizinkan, saya ingin berkata bahwa saya beruntung sekali karena ada orang-orang baik yang membantu saya dalam membuat langkah-langkah awal. Sebelum terbang, saya belum memiliki kepastian tempat tinggal, tetapi keluarga Mbak Puji dan Mbak Betty menjadi penyelamat. Kemurahan hati mereka memberikan ruang keteduhan dalam 17 hari pertama.


Apartemen kediaman Mbak Puji dan Mbak Betty di Campsie

Tibalah saatnya mencicipi suasana kampus baru. Foto di depan The Quadrangle seakan menjadi sebuah keharusan. Saya tida mengira pada awalnya bahwa ternyata hampir setiap hari lapangan depan simbol USyd ini didatangi oleh turis mancanegara.


Foto wajib di depan The Quadrangle

Tentu orientasi saat summer menjadi momen menarik. Ada banyak stand unit kegiatan mahasiswa yang dibuka sepanjang Eastern Avenue dan di lapangan Quad. Saya tidak terlalu ingat stand mana yang saya datangi. Namun saat itu, saya sangat tertarik untuk bergabung di tim panahan walau pada akhirnya saya tidak bergabung. Well, keputusan yang menjadi sangat tepat.


O-Week at The University of Sydney, Summer 2016

Di periode orientasi, banyak kelas-kelas pengenalan kampus dan Sydney, juga kelas-kelas terkait pengembangan diri. Saya mungkin termasuk yang paling rajin mengikuti kelas-kelas pengenalan ini meskipun konten yang dibawa cenderung sama. Namun, saat itu target audiens-lah yang membedakan. Tentu, informasi pantai dan keselamatan di sana menjadi yang paling menarik. Tentu, karena saya terlalu cinta dengan pantai. Dan, saya ingat Sang Instruktor memilih Manly Beach sebagai pantai favoritnya. Cukup mengagetkan karena awalnya saya pikir semua orang akan memilih Bondi Beach yang memang cenderung menjadi ikon Sydney selain gedung operanya. Di salah satu kelas pengembangan diri tentang Mindfulness, saya pertama kali bertemu dengan Johan, lulusan ITB yang juga mahasiswa baru USyd seperti saya.


Orientasi MPH Programme

Penyambutan mahasiswa baru di The Quadrangle menjadi momen pertama saya bertemu dengan teman-teman LPDP yang masuk di periode yang sama, musim gugur 2016. Awalnyapun saya tidak menyadari bahwa mereka duduk di barisan depan saya. Namun, saya tahu bahwa ada orang Indonesia di barisan itu mengingat baju batik yang rutin dikenakan oleh Ario Bimo. Ada Rhiza dan Fikri juga di situ. Saya telah melakukan kontak dengan Fikri sebelum berangkat ke Sydney terkait akomodasi dan hari itu menjadi momen pertemuan langsung pertama.

Mencari akomodasi untuk setahun ke depan menjadi tantangan tersendiri. Pastinya saat itu, aku berpikir untuk segera menemukan tempat yang tepat karena tidak ingin terlalu lama merepotkan keluarga Mbak Puji dan Mbak Betty. Akibat dari salah satu acara TV pada bulan Ramadan 2015, Lakemba, The Muslim Capital of Australia, menjadi prioritas utama pencarian. Aplikasi Domain menjadi andalan dan tiada hari saya lewati untuk membukanya. Sempat dua kali saya mendatangi akomodasi yang tersedia di wilayah Lewisham, tetapi memang sepertinya tidak berjodoh. Yang pertama, sepertinya saya telat dan yang kedua, agennya tidak hadir meski ada beberapa orang yang telah menunggu lama di depan premises. Kesempatan ketika tahu bahwa unit 18 di rumah nomor 12 Lakemba tidak saya sia-siakan. Saya ingat sekali bahwa saat itu saya yang pertama kali datang ke unit. Tidak lama kemudian, Sarah Hamaoui, sebagai perwakilan agensi datang dan disusul dengan beberapa orang calon penghuni baru. Namun, sepertinya doa saya dikabulkan. Sarah langsung memberikan saya formulir rental unit dan berjanji akan memprioritaskan saya. Selang beberapa hari dan setelah membayarkan bond, saya diberikan kunci rumah. Namun karena kondisi unit saat itu masih kosong akan perabotan rumah tangga, saya memutuskan untuk tetap tinggal beberapa hari lagi di Campsie sambil mencicil keperluan rumah tangga.


18/12 The Boulevarde, Lakemba
(Sumber: Domain app)

Minggu, 6 Maret 2016, selang sehari setelah pindah ke unit baru, saya dan kawan-kawan Fall LPDP pergi ke Sydney Opera House. Agenda utama tentu berfoto di simbol Sydney ini. Di sini, pertama kali saya bertemu dengan Mbak Praditya. Hari itu, hanya kami berempat, saya, Bimo, Rhiza, dan Mbak Tia. Fikri tidak hadir karena sehari sebelumnya dia menghadiri parade Mardi Gras. Percayalah, saya tidak ingin membahas parade itu hehe. Tapi intinya parade itu membuat beberapa ruas jalan utama ditutup dan tidak ada kendaraan umum, keadaan yang mengharuskan Fikri untuk berjalan kaki pulang ke rumah di larut malam. Di hari yang sama pula, dikarena keadaan terdesak yang membutuhkan tempat untuk salat, kami tiba di Kiroran Uyghur Restaurant. Dengan kata lain, hari itu menjadi hari awal histori kami dengan restoran yang akhirnya menjadi tempat favorit kami untuk berkumpul. Atau mungkin lebih tepatnya tempat favorit dari Bimo yang memang mungkin masih berdarah Uyghur.

"Greeting from Sydney!"
(Photo by Rhiza & Praditya)

Lalu, bagaimana dengan perkuliahan saya di semester pertama? Well, ada 5 mata kuliah dengan total beban 24 SKS yang saya ambil. Lebih tepatnya, kelima mata kuliah tersebut adalah mata kuliah wajib semester 1 di jurusan saya. Saya akan coba sebutkan satu persatu. Ada Introductory Biostatistics dan Epidemiology Methods & Uses di mana kedua matkul tersebut dapat dikatakan sebagai satu kesatuan. Hal ini dibuktikan dengan tim dosen dan tutor yang sama. Pada akhirnya, kedua matkul ini menjadi matkul favorit saya selama berkuliah di USyd. Dr. Kevin McGeehan, penanggung jawab MPH Programme, menjadi dosen favorit saya. Saya penggemar dengan cara beliau mengajar Biostatistics, matkul yang cukup saya benci di program sarjana dulu. Semua yang sebenarnya sulit menjadi menarik bagi saya. Lagipula, dia selalu jujur dari awal bahwa matkul ini akan sulit dan setiap tahun banyak yang tidak lulus. Karena dia asli dari Scotland, aksennya menjadi terdengar “luar biasa” di antara aksen-aksen dosen atau tutor lain yang kental dengan aksen Aussie-nya. Yang menarik adalah di setiap slide awal kuliah, Kevin pasti sedikit berbagi pelajaran bahasa Scots dan ungkapan sehari-hari di negaranya. Bahkan sekali waktu, dia pernah berbagi resep makanan tradisional Scotland. Sempat saya ingin mencoba, tetapi tidak terlaksana hingga detik ini hehe.

Tutorial di kedua matkul itu dibimbing oleh Sophie Phelan, salah satu lulusan terbaik School of Public Health. Kesan pertama saya pada Sophie adalah badannya yang tinggiiiiiiiiiii sekali hehe. Memang saya terkadang merasa dia agak canggung atau gugup ketika memimpin tutorial. Namun, dia memang genius pada dasarnya. Dan yang saya apresiasi dari sistem dan metode kuliah di Australia adalah dosen dan tutor selalu memotivasi mahasiswa untuk tidak enggan bertanya.

“There’s no silly question”.
They always said that again and again. Dan, ungkapan itu bukanlah tong kosong. Memang sepanjang perjalanan kuliah, baik saya maupun kawan-kawan sekelas yang menanyakan pertanyaan simple selalu dijawab dengan komplet dan sabar. Dosen-dosen dan para tutor pun benar-benar terlihat sangat antusias bila ada mahasiswa yang memberanikan diri untuk diskusi atau sekedar bertanya. Momen ini seakan menampar saya ke ujung dimensi. Mengapa? Karena, saya tidak pernah merasakan nuansa akademik seperti ini selama 5,5 tahun saya menjalani program sarjana. Tentu saya tidak mengatakan bahwa tidak ada dosen S1 saya yang seperti itu. Namun saya memang tidak merasakan suasana dan antusiasme yang sama dari sebagian besar dosen saya saat itu. Aroma bahwa dosen selalu benar itu masih kental terasa dan bahkan mungkin di hampir semua universitas, institut, dan sekolah tinggi masih seperti itu. Selama di USyd, saya selalu menemukan bila dosen atau tutor “mentok” atau salah, mereka akan mengatakan dengan jujur bahwa mereka tidak tahu akan satu perkara tersebut dan mereka akan minta maaf. Namun, pertanggungjawaban mereka jelas. Mereka akan membahas kembali unfinished business tersebut di kemudian hari atau akan membahasnya via online. Tanggung jawab akademik yang kuat dan nilai kejujuran yang dijunjung tinggi, mungkin kedua hal ini yang membuat University of Sydney menjadi kampus yang keren dan maju.

Matkul lainnya, yang merupakan matkul yang pada akhirnya membosankan dan cukup demanding, adalah Disease Prevention and Health Promotion. Mungkin bila disetarakan dengan jurusan yang ada di Indonesia, ini seperti mempelajari kebijakan kesehatan dan promosi kesehatan sekaligus. Ada 9 tutorial yang wajib diikuti sepanjang semester dan bernilai 10% untuk nilai keseluruhan unit ini. Tutorial dilaksanakan setiap hari Rabu setiap jam 4 sore. Namun di matkul ini, dapat dikatakan saya baru mendapat kawan yang cukup dekat. Ada mahasiswa yang berasal dari Nepal dan sudah 9 tahun tinggal di Sydney, Dheepak Bhusal. Sebenarnya, background pendidikan dan pekerjaannya adalah akuntansi. Dia berhenti dari pekerjaannya dan memutuskan untuk menjadi mahasiswa full-time. Menurutnya, mungkin MPH akan memberinya peluang baru di masa depan nanti. Well, selama 2 semeter ini, dia beberapa kali mengaku kerepotan dengan matkul-matkul yang sangat baru menurut dia. Ya, ini memang sudah diprediksi oleh yang bersangkutan. Pada perjalanannya, Dheepak memang menjadi kawan diskusi yang paling nyambung dengan saya. Di tutorial ini, ada juga mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa AAS (kalo gak salah ya) bernama Lucy Umboh. Saya beberapa kali bercakap dengan dia tetapi memang tidak terlalu sering. Ada juga Christian Jansen, mungkin orang Aussie pertama yang saya temui tinggi badannya tidak lebih tinggi dari saya hehehe. Dia ini pesepeda. Maka itu, badannya belang-belang karena terlalu sering kontak langsung dengan sinar matahari. Dia juga orang yang menyenangkan dan bila ada kesempatan pasti kami saling tegur sapa. Saya tahu medis atau kesmas bukan background dia. Meskipun cenderung terlihat kerepotan, dia termasuk mahasiswa yang aktif di kelas. Yang paling rajin mencatat dengan rapi dan apik adalah Natalie. Saya lupa dia darimana, tetapi dia orang yang ramah. Urusan baca jurnal wajib, pasti dia juaranya. Asli genius menurut saya. Natalie dan Dheepak adalah dua kawan yang pada akhirnya sama-sama dengan saya mengambil matkul Environmental Health di semester 2. Ada juga Shakthi Rameesh, dari USA. Dia baru lulus S1 dan langsung melanjutkan pendidikan di MPH USyd. Dia termasuk kawan diskusi yang cukup sering satu kelompok dengan saya. Dia termasuk orang pertama yang saya ajari tentang materi kuliah. Yang pasti, jarang-jarang saya bisa melakukan itu di sini hehehe. Ending-nya, saya mendapat nilai Pass di matkul ini dan setahu saya sebagian kawan juga mendapa nilai Pass, salah satunya adalah Batul Bazzi, wanita berhijab berdarah Lebanon-Australia dan besar di Brasil. Yang saya ingat dari dia adalah kami pernah berbagi cerita tentang kuliner di Indonesia dan Brasil. Sudah pasti, saya mempromosikan rendang daging, makanan terenak nomor 1 di dunia.

Bagi saya, 2 mata kuliah lainnya yakni Intro Qualitative Health Research dan Public Health Challenges tidak begitu menarik. Matkul yang disebut pertama dilakukan sepenuhnya online via Blackboard USyd dengan beban 4 SKS. Termasuk matkul yang sulit dan menjadikan wawancara langsung sebagai assessment-nya. Waktu itu, Rhiza yang saya jadikan narasumber tentang sikap orang terkait kesehatan. Public Health Challenges dilakukan dengan 2 kali seminar. Matkul ini adalah matkul pertama dan mungkin satu-satunya dimana saya melewatkan online discussion beberapa minggu tanpa menyadarinya. Sampai akhirnya dosen mengirim email langsung ke saya untuk menanyakan kabar dan email itupun terlambat saya buka. Untung saja saya mendapatkan nilai bagus di written assignment sehingga nilai akhir tidak terlalu mengecewakan. Sejak saat itu, saya menjadi rajin membuka email agar tidak terulang kembali hal bodoh yang serupa.


Prof. Baumann & Dr. Birden di kelas Public Health Challenges


Ujian Akhir Intro Biostatistics di MacLaurin Hall, The Quadrangle

Selama semester 1 dan di periode liburan musim dingin, beberapa perjalanan saya lakukan bersama kawan-kawan Fall LPDP USyd. Foto di La Perouse mungkin menjadi “primadona” dan sempat saya posting di Path. Foto ini cukup fenomenal dan mendapat “like” cukup banyak. Well, setidaknya saya masih bisa berpose seperti James Bond (abaikan..). Perjalanan ke Scenic Park, Blue Mountain, menjadi pengalaman pertama saya menggunakan kereta antarkota. Saya salut dengan keasrian alamnya, tetapi tidak terkesan dengan wahananya. Konon, tempat ini dulu adalah lokasi pertambangan batu bara yang akhirnya tidak aktif. Di Hyde Park saat sesi fotografi bersama Fikri, saya mendapat pengalaman pertama melihat copet di Sydney. Saat itu, korbannya adalah turis asal Cina. Mungkin karena kesulitan berkomunikasi dalam bahasa Inggris, turis itu tidak berteriak minta tolong dan menolak penawaran saya dan beberapa orang di sekitar TKP untuk mengontak polisi. Ya, meskipun Sydney termasuk kota yang aman, itu bukan berarti insidens kejahatan menjadi nol. Alhamdulillah, bukan saya atau Fikri yang menjadi korbannya.


'Cause the writing's on the wall... (Smith, 2015)
(Photo by Fikri F. Faiz)

Di Hyde Park
(Photo by Fikri F. Faiz)

Dalam semester ini pula, saya mendapat pengalaman pertama nonton bioskop di negara orang lain. Captain America: Civil War mendapat kehormatan sebagai film yang saya pilih. Sayang sekali, saya tidak bisa melakukan hobi saya ini dengan frekuensi yang tinggi karena harga tiket yang mahal. Sebagai gambaran, harga tiket normal di Dendy Cinema Newtown mencapai AUD 20.00 atau kira-kira IDR 200 ribu!!! Ini sekitar 4—5 kali harga tiket standar di XXI. Bahkan meski mendapat concession dengan kartu mahasiswa, harganya masih mahal yaitu AUD 7.00 alias IDR 70 ribu. Tetap saja agak berat bila dipikir-pikir mengingat budget saya menonton bioskop di Indonesia biasanya tidak lebih dari 40 ribu rupiah sekali nonton (seringkali cari bioskop yang masih jual harga 25 ribu rupiah hehehe).


#TeamCapt
Tidak lupa saya mengunjungi tempat favorit seumur hidup saya, PANTAI…!!! Dua target utama berhasil dicapai, Bondi dan Manly Beach. Dan memang asli ya, saya kagum dengan keseriusan pemerintah Australia dalam memperlakukan alam dan objek wisata mereka. Sejauh ini, saya tidak pernah menemukan pantai yang kalo masuk harus bayar dengan harga selangit plus preman berkeliaran plus Aqua gelas dengan tariff Asgard alias gak masuk akal. Semua pantai di sini terlalu indah, cakep bin rapi, bersih sudah pasti, dan relatif aman. Tidak ada biaya masuk atau embel-embelnya. Semua orang boleh masuk asal tertib dan memahami aturan keselamatan di pantai. Dan keselamatan pantai ini dipromosikan dengan massif ke semua lapisan masyarakat dan menjadi materi orientasi yang saya dapatkan di kampus.
Another lesson to learn, hey my fellow Indonesians..?? Pretty damn right…!!!
Ya mungkin di masa depan saya bisa menjadi inisiator untuk mengembangkan wisata pantai di Indonesia. Remember, love can make you achieve your dreams, even the most impossible or unthinkable ones…! (Maaf bila dirasa gak nyambung wkwk…). Intinya, saya terlalu cinta dengan pantai dan laut sehingga selalu berkeinginan untuk berbuat sesuatu terhadap pantai-pantai Indonesia. Sesuatu yang nantinya bisa bermanfaat dan terbuka bagi semua lapisan masyarakat TANPA BAYAR. Ammiin.

Senja di Manly Beach
(Photo by Fikri F. Faiz)

Overall, semester 1 termasuk menyenangkan bagi saya dan saya tidak akan memungkiri bahwa saya banyak menemukan hal-hal baru di sini. Sydney kota yang menyenangkan dan saya suka dengan keramahan orang-orangnya, terutama yang tinggal di suburbs. Namun sayang seribu sayang, disini kagak ada warteg brooooo…. -_-



-to be continued-


*Tulisan ini berasal dari perspektif pribadi. Bila ada kesalahan yang tidak disengaja atau pun disengaja, harap dimaafkan. Semoga bisa kembali di tulisan berikutnya.

Read More......

Tuesday, 1 November 2016

Penglihatan XXV: Chaos

Hari-hari ini membiru
Bukan langit yang menyaru
Bukan semangat yang membaru
Hanya asa yang membisu

Musim-musim berganti
Tak kunjung usai ku menanti
Mengawal rasa dalam hati
Tak ingin padam sebelum mati

Mimpi dan mimpi
Berdatangan kembali
Tak ada tanda berhenti
Bayangmu selalu menghantui

Aku berjanji tak hendak menyerah
Tapi semesta memaksa kalah
Aku, hilang arah?
Aku ingin melepas amarah

Lalu dalam cermin ku saksikan
Pesona menjijikan
Muak akan kekalahan
Yang tampak tak bisa ku menangkan

Prasangka meyakinkan dahulu kala
Dua belas purnama tidaklah lama
Kini semua berbalik nyata
Dulu aku terlampau jumawa

Setan-setan alas bukan musuh terberat
Diri ini yang jelas menjerat
Dorongan impian telah berkarat
Seakan alam pun berkhianat

Lara, lemah, lelah
Mata ini tak mampu membasah
Tersimpan rapi hati berkawah
Rusak dan tak terasah

Apa yang harus kuperbuat?
Untuk kembalikan semua niat
Yang tegar dan kuat
Meski hadapi tantangan berat

Satu-satu orang datang
Satu-satu orang hilang
Ucapan mereka terlalu usang
Bukan pandu yang benderang

Selamanya, aku ada cinta
Yang tidak pernah kau pinta
Cahayamu begitu nyata
Percaya ini tentang kita

Ratusan hari aku merindu
Dalam naungan awan nan sendu
Ratusan bintang langit memadu
Membawa memori berpadu

Dalam kalah, masih ada coba
Meski salah walau sekadar menerka
Mencoba membangun harapan yang ada
Dari puing pasir di tanah rata

Jika kau ada, bayangkan diriku
Jika kau sanggup, sapalah diriku
Jika kau rela, kuatkan diriku
Dan jika kau ingin, peluklah diriku

Kita, manusia dosa
Tak mampu sampingkan ego dalam raga
Kita, ditakdirkan bersama
Kita tahu yang seharusnya

Berjanjilah kita akan tersenyum lagi
Berjanjilah kita akan menangis lagi
Berjanjilah kita akan menyentuh lagi
Berjanjilah kita akan bersatu lagi

Forza,
Berjanjilah untuk menyapa
Aurangzeb,
Berjanjilah untuk kembali pulang
Delta-Orion,
Berjanjilah untuk tetap setia
Ryóo,
Berjanjilah untuk menjadi dirimu sendiri
Zeesto,
Berjanjilah untuk tetap bersamaku

Biarkan kuakhiri perang ini dengan senyuman
Hingga takkan ada sesal dalam genggaman
Aku akan kembali pulang
Dalam pekatnya misteri malam….



*Ditulis di Selatan Bumi, 2 November 2016, di tengah kekalahan…

Read More......

Friday, 20 May 2016

Penglihatan XXIV: Homo angelicus

Malam lalu begitu indah
Kita bertemu dalam mimpi
Menyatu dalam jiwa megah
Menyirat senyum kedua pipi

Satu, dua, atau tiga bulan
Selayaknya bermain dalam peran
Aku aktor yang buruk
Terbenam dalam hiruk pikuk

Aku berpikir akan kuat
Bertahan, bersabar tanpa syarat
Ternyata batas memang nyata
Rindu ini menyayat mata

Bukan darah, bukan dosa
Bukan logika, bukan rasa
Bila mampu, kuturunkan air mata
Tertumpah pada tanah merata

Anak-anak itu ada di mana?
Tiada kabar entah bagaimana
Ujian ini sungguh bertabur pilu
Bagi mereka, aku sepintas lalu

Ingin ku mampukan, tapi tak bisa
Air mata itu tak bisa lagi terasa
Hanya perih yang ada
Hanya perih dalam dada

Jadi, aku ini siapa?
Kepedulianku, sia-sia?
Harapanku, kosong belaka?
Kalian acuh, adalah fakta?

Wahai anak yang hilang
Apa yang terjadi?
Ada yang menyakitimu?
Ada salah dariku?

Kau sempat terbaring lemah
Kau sempat tergusur kalah
Adakah kau memberitahuku?
Adakah kau teringat sepintas diriku?

Lantas apa yang salah?
Orang lain?
Dirimu?
Atau semesta ini?

Katakan, aku harus menjadi apa
Katakan, aku harus bagaimana
Katakan agar aku bisa kembali melihatmu
Meski aku harus mencuri mata dari Horus

Kita ini bodoh
Kita ini lemah
Kita ini tak berdaya
Kita ini ibarat sampah

Aku bersumpah, aku menantimu
Aku bersumpah, aku lama menantimu
Aku percaya kau akan menculikku
Bawaku pergi ke pantai itu

Mohon izinkan untuk bertemu kembali
Mohon kembali dari gelap misteri
Dunia membutuhkanmu
Dunia membutuhkan kita

Kita istimewa yang lahir dalam raga biasa
Kita tak terbatas yang ada dalam keterbatasan
Sisa waktu 11 tahun lagi
Kita harus bertahan

Sampai hari itu tiba, aku terus berjanji
Aku akan selalu bersama kalian
Hari yang menjadi takdir kita sejak awal
Awal dari jilid akhir semesta

Wahai anak yang hilang
Kembalikan senyum malaikat itu
Wahai anak yang hilang
Tetaplah bersama diriku….






*Ditulis di Selatan Bumi, 20 Mei 2016, untuk masa depan….

Read More......