Ketika memang terucap selamat tinggal
Tak pernah aku pernah percaya akan adanya
Kau tahu, aku tahu
Tidak pernah ada selamat tinggal
Betapa memori ini dapat hidup dalam mimpiku
Kerinduan akan Ksatria dalam gelap malam
Pernah kita habis bersama
Waktu dalam hari-hari indah
Andai kau masih di sini
Kau akan mengerti
Karena aku kembali bersua
Seorang anak yang hilang
Sadari ini bukan sengaja
Bukan dia mencari nafkah
Atau pun butiran nasi
Tapi, cinta yang lama hilang
Betapa kesedihan berawan dalam matanya
Kesenduan di wajahnya
Terberatkan langkah kakinya
Mengingatkanku akan auramu
Hai anak yang hilang dalam masa
Dia ingin masa lalu bersembunyi di punggungmu
Tapi, dia tak mengerti
Hal mudah bagiku untuk pahami
Hai anak yang hilang dalam pelukan
Berat tak mampu kau pikul sendiri
Semakin dekat, semakin terasa
Aku hidup dalam darahmu
Hai anak yang hilang dalam kasih
Takdir kembali tergaris dalam Yang Terpilih
Tak mengerti
Dan, kau pun termangu
Lalu, apa yang kau pertanyakan?
Apa yang kau perbuat?
Dan, apa yang kau dendam?
Kemarilah, anak yang hilang
Biarkan Cahaya Putih terangi ragamu
Biarkan Sisi Gelap membuatmu tegar
Dan, biarkan hamba menyayangimu
Satu jalan akan kau tempuh
Bukan mudah memang
Kepastian akan kau terima
Dunia yang akan kau bawa
Tak perlu keraguan merambah jiwamu
Genggam tangan kami
Mawar Hitam merekah di tepian
Membawamu dalam ikatan
Masa lalu akan kembali pulang
Dalam haribaan semesta alam
Lembaran kalam-Nya
Tersenyumlah dan kau akan menang
Mereka akan kembali bertanya
Siapa dirimu sebenarnya
Ku tahu jawabnya
Hanya anak yang hilang….
*Ditulis Hari 10 Ramadhan dalam gelap malam, untuk Masa Depan….
Wednesday, 31 July 2013
Penglihatan XIX: Anak yang Hilang
Monday, 24 June 2013
Penglihatan XVIII: Senandung dalam Awan
Pergiku dengan yakin
Tak mampu pamit dengan ibuku
Tak berniat hidup dalam dusta
Tak ingin ku dia khawatir
Berserak tubuh dalam semangat
Bersama tali saudara kami genggam
Sebuah rindu ku tinggalkan
Untuk Sahabat Jiwa
Manisku, akankah kita bersama?
Telusuri ladang Suryakencana?
Harummu terpapar surga
Memori cinta Edelweiss
Aku tak pernah henti berharap
Cahya pun terbit kembali
Di Bukit itu
Mari ke sini untuk ku peluk
Lelah memang suatu batas
Namun Dia tak pernah berbatas
Anugerah terindah lantas ku syukur
Semoga indah-Mu iringi langkahku
Sampai jumpa kembali
Aku akan kembali pulang
Dalam pangkuan kasih sayangmu….
*Ditulis di Lembah Suryakencana, Mingggu, 19 Juni 2011, untuk Masa Depan.
Wednesday, 17 April 2013
Penglihatan XVII: Perang Abadi
Kelelahan jiwa yang menghampiri orang ini
Kelelahan hati yang menghampiri kalian
Nafas yang terengah terdengar sunyi
Garis kehidupan telah ditetapkan
Dua tahun ini akan menjadi panjang
Dua puluh tahun ini adalah kunci bagi kaummu
Hadapi perang yang tak terelakkan
Perang perjuangan akan kedamaian
Garis tangan dalam surat putih
Terbaca sangat mudah oleh kami
Aku hanya menyebutkan apa yang ku ketahui
Agar semua ini akan selesai
Hidup ini adalah milik-Mu
Aku adalah pengabdian yang sempurna
Sampai jumpa lagi, wahai kawan
Tak terhapus dalam ingatan…
*Ditulis di suatu kelas kuliah semester 2 tahun 2009, untuk Masa Depan....
Wednesday, 3 April 2013
Penglihatan XVI: Dan Tidurlah...
Jangan pernah kau tersadar akan kehancuran Dunia
Kau akan tertidur saat itu terjadi
Dan saat kau tersadar, Dunia pun akan tersenyum
Karena kau adalah Yang Terpilih
Kata maaf ini harus kuucap
Tak mampu ku dampingi dirimu yang sendiri
Karena aku akan berjuang
Dengan hati yang tak ternoda
Sebuah awal harus diakhiri
Dan bukan untuk ditunda
Hal yang tak mudah menjalani kita berdua
Itu pun sesuatu yang mungkin
Sang Neraka Dunia akan datang
Menghancurkan keluarga yang kau sayangi
Apakah kau akan menyesal melihat semua itu?
Cinta ini akan selalu hadir karena ini adalah sebuah takdir
Takdir yang harus dijalani
Dalam hati yang suci ini…
*Ditulis di suatu kelas perkuliahan di semester 2, untuk Masa Depan....
Penglihatan XV: Yang Harus Kau Tahu
Dipaksa mata ini menatap saja
Kelam membisu dalam dinding sepi
Guntur mengkilat hujamkan bumi
Yang terluka dan putus asa
Akankah cinta sejati kalahkan segala?
Atau duka lara yang akan berkuasa?
Alirkan doa tanpa henti
Berserah diri ku mengadu
Lelah hati terasa hampa
Sudah cukup ku kecewa
Aku masih berharap
Jawaban indah kan datang
Mawar Hitam mengembang di Selatan Kota
Semerbak wangi memesona jiwa
Sadarlah kalian, wahai Dunia
Karena dia pun tak ingin bicara
Tak bisa kami putuskan
Para Mevlevi telah berbisisk
Sang Belzzet pun telah berdiri
Kami mohon ampun
Pergilah kalian ke sana
Biarkan aku tersesat dalam hutan
Menangis sendiri
Karena aku tak sanggup lagi
Menyedihkan ketika aku tahu
Semua sudah terlambat
Pikir mereka tidaklah sama
Mereka tidak menyerah
Medjaij suci membawa harapan
Yakinkah langkah terampuni
Tersenyumlah...
Karena mereka sedang mencarimu...
*Ditulis di kelas Kesehatan Ibu dan Anak, Rabu, 16 Desember 2009, untuk Masa Depan…
Monday, 18 February 2013
Penglihatan XIV : Elegi
Mengapa harus aku melewati semua ini
Ketika titik terang mencapai setampuk noda
Terdengar lirih suara yang memanggil
Permohonan akan kesabaran yang tak terbatas
Bertanyalah diri ini kepada alam
Apakah harapannya akan menghancurkan ku?
Atau semua itu hanya akan tersirat pada selembar kertas putih
Memang ini sangat membingungkan
Selasar hari yang diarungi waktu
Waktuku berpikir sangatlah ringkas
Terpejam hati yang tersakiti
Oleh cinta yang terlapuk pengorbanan
Lekaslah terbangun dari tidurmu
Mereka sudah menatap dan memanggilmu
Coba dengarkan suara yang lirih
Lirih tersapu angin kebiadaban
Masihkah kau bersamaku?
Masihkah kau bersamaku?
Masihkah kau bersamaku?
Penderitaan ini belum juga berakhir
Karena akhir pun seperti lupa dengan wajah pucatku
Hanya mencoba menoleh tanpa pamit
Kemudian beranjak tanpa jejak
Cinta…...
Nyata…...
Pengorbanan…..
Pisau kata telah kau hunus
Permusuhan takkan terhindar
Tetaplah damai dalam dekapku
Tiada rela aku melihatmu jatuh
Terpanggil kembali manusia ini
Memikul harapan Dunia
Anak itu kembali muncul
Dengan senyum penuh cahaya
Masihkah kalian ingkar?
Masihkah kalian benci?
Dan masihkah kalian mencaci?
Yang kalian butuhkan hanyalah diam, diam, dan diam
Hapuskan semua prasangka buruk
Biarkan kebenaran sejati muncul dengan caranya
Dan kalian hanya akan bisa diam, diam, dan diam
Sekalah air mata dari mata indahmu
Lepaskan sejenak dekap eratmu
Biarkan aku bernapas lega
Karena Serigala Malam telah terbangun dari tidurnya...
*Ditulis sekitar bulan November 2009
Wednesday, 9 January 2013
Penglihatan XIII: Dua Sisi
Hitam…
Putih…
Khayal…
Nyata…
Sungguh jiwa yang tenang menghampiri hidupku
Terpejamkan mata mengasihi doa
Harapan takkan pernah musnah
Sepanjang angin tetap berhembus
Terlalu suci hati membuatku termenung
Tak ingin ku lepas walau sedesir pasir
Perasaan mendalam begitu indah
Begitu hangat selimut jiwa
Selama hidup aku ingin
Bersandar pada bahumu
Memelukmu erat takkan ku lepas
Agar aku tetap bersyukur
Anugerah hadirmu
Sungguh damai yang kau bawa
Tak dapat aku menghindar
Keyakinan akan hasrat jiwa
Begitu bersih tanpa noda
Irisan diri begitu kuat
Tak terlampau jasad mampu menahan
Inginkan diri menjauh jarak
Pergi dari segala kelemahan
Kekecewaan ini akan terbalas
Mereka semua akan menyesal
Tak tahu akan manusia ini
Mampu musnahkan semua harapan
Mereka akan bertanya padaku
Segala apa yang kulakukan
Seolah mereka tak mengenal
Siapa diri mereka
Mereka sangat tak berdaya
Dendam manusia ini terlalu dalam tak terbendung
Jadikan mereka menikmati derita yang tertanam
Dan irisan ini akan tersenyum
Bukankah kalian sudah mengerti?
Bukankah kalian sudah memulainya?
Dan bukankah kalian yang menginginkan?
Harapanku…
Semesta ini akan sadari dirinya
Dan akan hilang penuh misteri
Tanpa sisa tersimpan
Katakanlah pada mereka, “Lihatlah anak itu!”
Takkan mampu mereka berdusta
Dunia akan ada dalam genggamannya
Agar semua ini menjadi indah
Jangan pernah kau bertanya
Biarkan waktu menjawab realita
Jangan pernah kau bertanya
Biarkan anak itu temukan dirinya
Dua sisi dalam diri
Kegelapan dan Cahaya
Dua sisi dalam diri
Ambisi dan hakikat cinta
Dua sisi dalam diri
Hanya kau dan aku