Saturday, 2 January 2016

2015: Best Moments

Tulisan ini dibuat berdasarkan perspektif pribadi. Sebenarnya, terlalu banyak momen yang terjadi selama tahun 2015 lalu, tetapi beberapa di antaranya dapat dikatakan sebagai yang terbaik. Semoga orang-orang yang terlibat di dalam momen ini senantiasa mendapatkan kebahagiaan dan prestasi yang terbaik di tahun-tahun ke depan!


1. Sainsta Cup SP 47 (Tifosi Futsal Duren Sawit, Sabtu 10 Januari 2015)
Cara yang keren mengawali tahun 2015 ditandai dengan model rambutku yang “berbeda” dan dikatakan Rendra sebagai “funky”. Memang hanya sedikit yang datang, tetapi tetap menyenangkan. Ada eksternal SP yang ikut di sini, yaitu Yoga dan Makarim. Bertemu kembali dengan Hanifi dan bersama menuju Bebek Kaleyo untuk makan sore. Aku pulang bersama Faza dan Sana melewati parahnya kemacetan Kalimalang dimana durasi mimpi karena tertidur di angkot berbanding terbalik dengan jarak tempuh angkotnya.


2. 8 Inspiration Day (AV Grande SMA Negeri 8 Jakarta, Sabtu 7 Maret 2015)
Hadir hanya di bagian akhir acara, aku masuk ketika Bang Taufik Basari dan Bang Arief Wismansyah (keduanya 8’1995) memberikan materi. Mungkin lebih tepat bila dikatakan berbagi wawasan dan pengalaman serta memori selama masih bersekolah di SMA Negeri 8 Jakarta. Mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan kedua legenda ini merupakan pengalaman yang luar biasa bagiku.

3. Diterima 2 Perguruan Tinggi di Australia
Setelah sempat berpikir untuk berkuliah di Spanyol, Inggris, Singapura, dan Amerika Serikat, akhirnya aku memutuskan untuk berkuliah di negara Australia. Awalnya, aku diterima di University of Wollongong, ditandai dengan mendapatkan LoA pada 10 April 2015. Namun karena berbagai pertimbangan, aku mencoba mendaftar di The University of Sydney dan akhirnya diterima pada tanggal 4 Mei 2015.

4. Pengumuman Kelulusan Tes Wawancara Beasiswa LPDP (10 Juni 2015)
Sesungguhnya, wawancara LPDP yang dilaksanakan di STAN itu merupakan memori buruk yang ingin kulupakan. Aku sudah pasrah bila tak lolos dan sudah mulai mencari alternatif beasiswa pendidikan lainnya. Bahkan di hari itu, aku tidak segera membuka email dan sedang mengisi 6 sesi mengajar di BTA 8 Soepomo. Aku baru membuka email pada pukul 19-an sesampainya di rumah. Uniknya, kabar kelulusan ini telah lebih dahulu diketahui orang lain, seperti Yoi dan Bang Waway.

5. Cairo Rohis 8 (Taman Nasional Mandalawangi, 20—21 Juni 2015)
Tempat yang sangat memorable bagiku. Hari keberangkatan sudah menarik bagiku karena bersama dengan Fadel dan Ivan, mendapatkan kesempatan ngobrol langsung dengan Pak Tulus, Kepsek SMA Negeri 8 Jakarta saat ini dan sedikit-banyak mengetahui karakter beliau. Aku sedikit memberi wejangan di Sabtu malam saat acara api unggun, makan mie instan di warung sekitar, mentertawakan lawakan dari dr. Panji yang “kesurupan” ala acara Dunia Lain, tidak bisa tidur karena ditendang Yoga secara konsisten, dan mendapat kesempatan berdiskusi dengan Pak Maulana (Pembina Rohis 8 saat itu). Tidak lupa mendapat pengalaman unik saat di Mushalla yang bertemu dengan para “pengembara” yang berdakwah dengan berpetualang dari satu mesjid ke mesjid lain. Setelah momen Zhuhr itu, aku dan yang lainnya tidak kembali ke Mushalla itu hehehehe....


6. Geng At Ta’awwun (Masjid At Ta’awwun Puncak, 8—9 Juli 2015)
Bersama dengan Ziyan, Diazo, dan Hendro, aku melakukan wisata religi ke Masjid At Ta’awwun Puncak. Kami berkumpul dulu di FE UI dan berangkat dari sana pada rabu sore dan sempat berhenti di salah satu Rest Area untuk berbuka puasa. Kami mengambil banyak foto bersama sebelum pulang. Ini adalah pengalaman pertama naik mobilnya Ziyan dengan dia sendiri sebagai supirnya.


7. Tiga Bukpus Subsi
Di bulan puasa ini, aku berhasil untuk hadir dalam bukpus tiga subsiku. Diawali bukpus SP di Tanjung Barat pada 3 Juli 2015, lalu bukpus Art sekaligus perayaan 50 tahun Art di Umi Graha Mbok Berek Tebet, dan bukpus sekaligus I’tikaf Rohis 8 di Darul Irfan 11—12 Juli 2015.

8. Daurah Pra Kampus Rohis 8 (Asrama Quran Depok, 10—11 Juli 2015)
Diawali dengan Buku Puasa BTA Group di BTA 52 Tebet, aku berangkat ke Asrama IQF Depok bersama Qoqon dan Fadel, diantarkan oleh kedua orang tua Qoqon. Sekitar tengah malam, aku berkesempatan untuk bertemu dengan Ketua BEM FT UI saat itu yang juga alumnus 8’2012, M. Reza Pramadea. Sesungguhnya aku pernah tahu anak ini, tetapi baru ingat lagi setelah bertemu di kesempatan ini. Dan tentu saja, aku dapat mengatakan dia orang yang hebat.

9. Ibadah Ramadhan on target!!! (1436 H)
Nikmat yang paling disyukuri di tahun 2015, Alhamdulillah...!

10. Flashmob PK-37 LPDP (Bunderan HI, 9 Agustus 2015)
Setelah sehari sebelumnya latihan di Studio Nari-nari, Kemang, this was the showtime! Pengalaman pertama nge-dance di Car Free Day, diperhatikan banyak orang yang lalu-lalang, bahkan sampai ditegur petugas keamanan karena keramaian yang menyaksikan mengganggu perjalanan TransJak. Katakanlah pertunjukan Flashmob ini sebagai bentuk “balas dendam” karena saat SMA, tidak ada ujian praktek senam irama yang legendaris itu. Apresiasi buat Elgha sebagai PJ Flashmob dan seluruh tim Flashmob PK-37..!!

11. Risma SP 51 (Paviliun Sulsel TMII, 8-9 Agustus 2015)
Sabtu, 8 Agustus 2015, keadaan memaksaku untuk membuat keputusan yang salah dengan naik Kopaja 57 dan melewati Jalan Raya Bogor yang luar biasa macet. Di hari pertama, aku tiba di lokasi sekitar Pukul 20-an. Menghabiskan waktu mengobrol dengan Kak Yono sambil makan malam dan akhirnya harus pulang bersama Wibias Muliawan yang dijemput kedua orangtuanya. Hari kedua, terjadi kesalahpahaman yang mengharuskan aku segera kembali ke lokasi Risma lebih cepat dari jadwal karena rundown yang dipersingkat. Dengan keadaan yang basah kuyup dan lelah setelah Flashmob di Bunderan HI, aku tidak membuat kesalahan lagi seperti hari pertama. Naik Commuter dilanjutkan dengan TransJak, angkot, dan ojek, aku tiba di lokasi di tengah hari. Hari kedua lebih ramai dengan kehadiran Sutan, Andi Hakim, Bang Benny, Mas Ferry, Kak Janur, Thariq, dan lain-lain. Aku pun dipaksa untuk turut serta dalam diskusi presentasi kelompok hehehe. Di penutupan acara, aku berkesempatan untuk menyampaikan pesan dan amanah kepada para penerus SP. Pengalaman 2 hari ini tetap membahagiakan karena bisa melihat anak-anak muda calon pembangun bangsa.


12. Persiapan Keberangkatan LPDP Angkatan 37 (Wisma Hijau Depok, 17—22 Agustus 2015)
Persiapan Keberangkatan LPDP, rangkaian acara yang mutlak diikuti oleh para penerima beasiswanya. Pra-PK sudah cukup menegangkan dan menguras pikiran bagiku dengan seabrek tugasnya. Menurutku, momen menjelang PK jauh lebih membuat jantung mau copot dan otak menjadi spekulatif-imajinatif. Namun ternyata, pengalaman 6 hari ini menjadi pengalaman yang terlalu berharga bagi diriku ini. Bersama dengan 126 penerima beasiswa lainnya, aku berkesempatan bertemu dengan orang-orang hebat dan mendapatkan wawasan yang luar biasa. Momen terbaikku selama PK adalah saat di Kandank Jurank Doank dimana Dik “Om Ganteng” Doank memberikan kontempelasi diri yang luar biasa menggugah serta saat di Net TV menerima materi dan pegalaman dari Pak Wishnutama. Ditempatkan di kelompok Bajo yang FIERCE, juga menjadi suatu kebanggaan bagiku. Terima kasih kepada Ibu Presiden Desi Sari Puspita, Kepala Suku Denisha Betaci, Mas Abe yang gw temenin ngedekor di atas panggung penutupan, Salim yang keren banget udah gak tidur berapa hari selama PK buat ngerjain video angkatan, Andrew temen sebelah gw dalam 1 bis, Mbak Bebi yang udah bikin konsep persembahan kelompok yang keren, Dimas yang mobilnya sempat gw bikin jadi tempat tidur, Elvina si anak ajaib yang jadi temen duet gw di persembahan kelompok, dr.Irvan yang udah bangunin gw yang tertidur pulas pas Salat Jumat, Aji yang jadi temen sekamar gw di H-1 PK, Vania yang nemenin gw sedikit keliling Bandung, Lissa yang selalu manggil orang dengan “ses”, Yudy (yang gw inget gossip kita pas makan siang bareng Andrew dan Mas Abe), Anggita, Arin, Nana, Mbak Putri, Rian, Suchi, dan Mas Tony. Sukses bagi kita semua...!!


13. Collaboreight 2015 (Taman Ismail Marzuki, 12 September 2015)
Collaboreight pertama yang pemesanan tiketnya melalui internet. Kali ini, aku ditemani oleh Wibias Ari, Sultan, Fadzil, dan Ilham Dedi. Cerita yang dibawakan menurutku salah satu yang terbaik, apalagi ditambah fakta adanya sad ending. Salah satu drama musikal favoritku.

14. Pelantikan New Guardians (Mie Ayam FIB-FISIP UI, 6 November 2015)
Salah satu program jangka panjang dari Departement Pengembangan Sumber Daya Manusia Thornhill Management yang telah lama tertunda kurang lebih 2 tahun. Malam itu, sekitar pukul 23.00 WIB, telah resmi generasi Guardians yang baru beserta pemimpinnya. Momen ini dimulai dengan canda tawa, diisi dengan diskusi serius, dan diakhiri dengan kesenduan. Semoga generasi baru ini mampu menjawab tantangan yang telah menunggu untuk ditaklukkan. Doaku menyertai kalian semua.

15. Birthday Surprise!! (Lotte Shopping Avenue Kuningan, 18 Desember 2015)
Momen yang terlalu langka untuk kudapatkan. Setelah beragam ketidakpastian dan tantangan-tantangan dalam perjalanan, anak-anak ini berhasil memberiku kejutan hari kelahiran di waktu-tempat yang tidak terduga. Terima kasih kepada Ivan, Fadel, Sultan, Wibias Ari, Faza, dan Ilham Dedi.


16. Star Wars: The Force Awakens (Lotte Shopping Avenue XXI, 22 Desember 2015)
Film yang telah mengisi hari-hari di masa kecilku kembali lagi dengan para pemeran lamanya. Lightsaber versi Kylo Ren termasuk inovasi yang mencengangkan sekaligus keren dari JJ Abrams. Kali ini, aku ditemani oleh Wibias Ari, Sultan, dan Ilham Dedi. Well, karena tiga anak ini adalah newbie dalam menonton Star Wars Saga, presentasi singkat tentang saga ini harus kulakukan setelah film berakhir hehe.

17. Pecinta Sate Kulit (sejak Sabtu 5 September 2015)
Kelompok mentoring yang dibentuk setelah makan malam bersama dan akhirnya memiliki agenda berkala. Semoga setiap personil dari grup ini selalu mendapatkan terbaik dalam kehidupannya.

18. BTA 8 Pola Minggu Siang
Dikepalai oleh Ki Abud Gendheng Asmoro, pola belajar ini menjadi yang paling beda dibandingkan dengan pola dan lokasi belajar lainnya. Selalu ada canda tawa yang menghias dikala sebelum masuk, istirahat, dan bahkan selesai KBM. Apresiasi buat semua pengajar yang menjadi personilnya: Mbak Suryani, Reta, Enrico, Lenggo, Mustika, Aisyah Kahar, Jaka Haris, Yoi, Kak Risco, dan lain-lain. Salam “Microphone a la Mami”...!!! ^^

Terima kasih semuanya!! Sampai ketemu di momen-momen terbaik 2016...!!

Read More......

Wednesday, 29 July 2015

Sahabat Jiwa

Tak terasa bulan itu sudah purnama
Aku melihat kawanan awan bergerak
Mencoba menutupi sinaran terang
Namun hanya bisa memendarkan

Bila harus mengingat, aku kan ragu
Kapan saat pertama itu?
Mengapa bisa ku lupakan momen terbaik itu?
Aku dapat mengenalmu

Ruang-waktu ini makin relatif
Seperti kemarin saja
Kau masih begitu muda
Bahkan tak sekejap pun aku menyadari

Andaikan gelas kaca itu ada
Takkan sanggup menangkup memori-memori
Air-air kenangan itu akan tumpah
Bahkan mampu pecahkan wadahnya

Bantu aku mengisi gelas-gelas hampa
Ya, kita sedang melakukannya
Perlahan saja
Momen ini terlalu berharga

Ketahuilah, banyak hal yang tak kau ketahui
Kau berusaha keras untuk pecahkan teka-teki
Kau takkan pernah temukan jawabannya
Bahkan bila kau tak pernah siap

Sadarilah adanya pengemis cinta
Mengerti cinta tapi selalu tanpa bahagia
Karena dua sisi mata uang
Bahkan cinta dapat hancurkannya

Kau hanyalah satu dari labirin semesta hidup
Yang memberiku lagi hangatnya harapan
Jangan pernah pergi, ini akan melelehkanku
Bebaskanku dari kebekuan jiwa

Hai, sahabat jiwa
Apa kabar malam ini?
Sapa aku sebelum lelap
Sampai jumpa dalam mimpi indah kita....

Read More......

Thursday, 22 January 2015

Masa Itu

Sore ini, aku menjalani rutinitas.
Dalam perjalanan, ku melihat keluar dari kaca M 34.
Menyelami keadaan hujan yang membasahi kota hari-hari terakhir.
Rangkaian imaji kembali datang dalam keheningan.

Aku teringat saat-saat itu. Saat masih dalam putih abu.
Ketika aku baru saja tiba di kelas yang diapit tangga, toilet, dan koperasi.
Teman-teman telah bicara masa depan.
Cita-cita mereka untuk berkuliah.
Hanya seputar itu, Depok atau Bandung.
Padahal masih pukul 6.15, mereka sudah berdiskusi serius.
Aku masih masa bodoh tanpa peduli seakan belum terpancing.
Namun dalam hati, aku menghargai keseriusan mereka.

Lalu, aku teringat hal lain.
Selalu setiap hari Jumat, jam pelajaran akhir sekolah.
Seharusnya fisika yang kami babat menjelang pulang itu.
Namun yang kami lakukan malah menggoda Pak Heri.
Entah itu tentang mobil jeep nya, kunci penjaranya, atau malah kampungnya pun diurusi.
Ya saat itu memang beliau masih dipanggil Pak Vijhay, karakter inspektur di film-film Hindustan zaman dulu.
Sepertinya sekarang sudah tidak seperti itu.
Jumat jam terakhir adalah waktu bercanda. Tak apa, yang penting beliau mengizinkan.

Ingat pula jadwal Senin. Hari senin selalu membuat lelah.
Ada jam olahraga yang terpisah jam istirahat.
Bukan, bukan itu yang jadi masalah. Waktu nya di siang hari yang membuat habis tenaga.
Aku dan yang lain berfutsal yang tak pernah serius itu. Para wanita? Urusan Pak M.S.M.
Belum lagi dilanjutkan Bahasa Indonesia kelas Pak Aye. Kami harus menjawab gaya absensi kelasnya yang unik.
Selalu meminta surat keterangan dari anak yang sakit. Sepertinya tidak ada yang pernah memberi surat setahun itu.
Dan jam terakhir, dimana aku selalu tidak pernah tahu Bu Elly sudah berada di kelas.
Hanya suaranya yang selalu terdengar keras ketika mulai mengajar.

Ingat pula kawan-kawan terbaikku, setidaknya termasuk yang terbaik dalam hidupku.
Kawan semejaku, Arif, he's the best. Selalu membuat suasana cerah meskipun hadapi soal integral yang dahsyat itu.
Belum lagi humor dan candanya.
Contoh? Arif adalah yang pertama membandingkan guru 8 dengan karakter Dragon Ball.
Guru English kami, yang bahkan di awal kelas XII sempat dia sebut guru Agama Islam yang mengajar dengan English, pun jadi target.
Dia bilang beliau mirip Dr. Gero, sang pemimpin Red Ribbon.
Teman kami pun kena getah juga.
Masih teringat ketika tiba-tiba dia memintaku untuk melihat kawan kami, Tri, yang duduk di belakang kami.
"Ga, ada Piccolo..!"
Aku hanya bisa menahan tawa dan bayangan akan Piccolo selalu tak bisa lepas ketika harus ngobrol dengan Tri.
Tri pun sepertinya tidak memahami apa yang kami maksudkan.

Tentang Tri, teman duduk semejanya selalu berganti.
Kalau bukan Brian, pasti Arie. Asal salah satunya datang lebih awal, dia yang akan dapat kursinya.
Namun biasanya, Arie yang selalu telat datang. biasanya 5-10 menit dari bel masuk yang saat itu masih pukul 6.45.
Dan rejeki Arie biasanya duduk di pojok kiri belakang dekat lemari kayu tua bobrok.
Biasanya ditemani sama ratunya telat dan jarang masuk. Aku dan Arif biasa panggil teman kami ini dengan Suci.
Tidak apa karena sepenglihatanku, Suci jadi target dakwah fardiyah nya Arie, setidaknya untuk mengingatkan dia salat.
Menjelang Ujian Nasional, Suci akhirnya jadi lebih rajin masuk sekolah dan belajar.
Ini karena Brian yang sepertinya memang berhasil membimbing Suci ke jalan yang benar. Alhamdulillah.

Angkot ini sepertinya berjalan sangat lambat.
Semua kenangan itu masih seperti kaset yang berjalan.
Masih berjalan dengan kecepatan yang dapat menembus langit.
Ya ampun, masih di Tebet Barat.

Aku kembali terkenang dengan teman-teman, hanya tidak secara spesifik.
Di kolom kiri, duduk para lelaki macamnya Yosia sang ketua kelas, Daniel, Berlan, Putut, sampai Doni yang jadi kesayangan Bu Ermi.
Berlan selalu membicarakan musik denganku walau mayoritas lagunya bukan yang aku pahami.
Di kolom tengah-kiri, di sinilah aku berada. Di depanku ada mantan ketua PO Mamad dan Rani yang selalu heboh di setiap saat.
Di kolom sisa? Para wanita berkumpul. Dari yang paling kalem seperti Hanifah, yang pintar seperti Sarah.
Bahkan ada yang pernah "clash" sama Bu Astri karena masalah Markovnikov. Masalahnya, aku lupa siapa orangnya.
This was my class, the greatest I've ever had, XII IPA B.

Ibu-ibu yang duduk di seberang mengeluarkan suara.
Dia meminta untuk berhenti di sini.
Tempat yang sama di mana aku ingin turun.
Masih hujan, semoga payungku yang tertinggal masih ada di gedung 44...

Read More......

Saturday, 27 December 2014

Trust No One

Trust no one
There is no one to believe

Trust no one
You are full of hatred

Trust no one
You gain no pain

Trust no one
You will survive

Read More......

Wednesday, 8 October 2014

Santai Saja

Santai saja
Semua ada waktunya

Santai saja
Takdir itu sudah ada

Santai saja
Kau akan sulit untuk mengejar


Santai saja
Duduk bersamaku
Aku akan membuatmu tertawa
Tersenyum bahagia

Bila sudah waktunya
Mari kita mengejar mimpi
Yang sudah mengangkasa itu
Percayalah, kita akan ke sana..

Read More......

Tuesday, 9 September 2014

Impresión

La primera impresión, sólo lo hice como siempre lo hago
La primera impresión, que es mi poder para conquistar personas
La primera impresión, fue el comienzo de un largo viaje
La primera impresión, que hizo que llegaste a mi vida
La primera impresión, ahora tu puedes inspirar a tus amigos
La impresión final, después de tanto tiempo, sé que somos tan iguales....

Read More......

Sunday, 27 July 2014

Serpihan Kisah dari RISMA 2009

(Tiba-tiba terpikir untuk mempublish ulang tulisan ini. Termasuk tulisan terbaik saya bila dilihat dari maknanya. So, enjoy!)



Hmm…
Gw agak sulit untuk memulai note ini.
Mungkin, gw harus memulainya dari mengapa akhirnya gw memutuskan untuk ikut RISMA tahun ini.


Awalnya, gw tahu RISMA dimulainya kapan dari BS tiri gw di SP 42, Liza Farihah. Gw lupa tanggalnya kapan, tapi yang pasti waktu itu kita lagi chatting via Facebook. Ngobrol, ngobrol, n ngobrol, tiba2 dia kasih tau ke gw klo ada RISMA tanggal 1-6 Juli 2009 di daerah Ciater. N, yup, dia ngajak gw ke sana, berangkat tanggal 3 Juli krena dia hrs kuliah tanggal 2 nya. Truz, gw smpat bilang gak bisa ke sana karena jadwalnya bentrok sm jadwal OKK FKM (Ospek nya FKM UI), Welcome Maba, Pleno, dan Briefing I Pra OKK. Eh, pas gw lagi chatting sm Liza, gw liat daftar friend gw yang lagi OL. Ternyata, ada Koordinator Komisi Disiplin OKK FKM UI 2009, alias bos gw di kpanitiaan OKK FKM. Gw langsung terpikir buat nanya dia. Klo gak salah, begini bunyinya, “Kak, saya boleh minta izin gak ikut Pleno n Briefing gak???” Dan scara instan dan kilat, langsung ditolak sm beliau. Sempat kaget jg, tapi ya ud lah.

Eh, tanpa diduga, datang jadwal baru yg bikin bentrok lagi. Jadwal itu datangnya dari sebuah institusi tempat gw bekerja. Acaranya itu katanya penting karena “menentukan” nasib gw d institusi itu setahun ke depan (Liza pasti tahu maksud gw acara apa….). Acaranya tanggal 4-5 Juli 2009 (Tp, pernah gw dpt sms yang katanya acara itu bakal dilaksanakan tanggal 3-4 juli 2009). Truz, gw disuruh isi “Lembar Kesediaan” buat mengikuti acara itu. Gw gak mengisi lembar itu pada saat gw disuruh karena gw masih dalam tahap berpikir untuk mencari keputusan yang terbaik buat hidup gw (Bahasa ini gak lebay lho…). N, yup, di lembar kesediaan itu, gw melihat nama Liza sudah diberi keterangan untuk gak ikut acara itu karena ikut RISMA. Hmm… Gw truz berpikir sejak saat itu. Y Allah, bantulah hamba-Mu ini….

Gw lupa brapa lama gw memikirkan hal ini. Tapi yang jelas, proses berpikir itu memakan waktu skitar 2 minggu (tuh, lama banget gak sih gw mikirnya…). Dan, setelah gw berpikir matang2 dan memilah-milah baik buruk dan apa yang bakal gw dapat dari ketiga acara itu (OKK FKM, acara institusi gw, n RISMA), gw memutuskan dengan BULAT dan TEGAS klo gw ikut BS tiri gw ke RISMA.
Hmmm…proses yang sangat melelahkan….

Lalu, yang gw lakukan slanjutnya adalah minta izin ke Koor. Komdis OKK FKM dan bos gw di institusi itu. Beberapa kali gw mencoba memohon izin ke sang Bos Komdis dan gagal, akhirnya di suatu rabid Komdis (Gw lupa rabid Komdis yang keberapa), dengan kekuatan lobi gw yang sekuat lobi-lobi para Yahudi dan dengan izin Allah tentunya, gw diizinkan untuk pergi. Alhamdulillah…!

Langkah selanjutnya adalah meminta izin Bos gw di institusi tempat gw bekerja. Hmm…gak tahu kenapa gw merasa ini langkah yang cukup sulit (perhatikan katanya, “cukup sulit”). Gw masih ingat harinya, hari Rabu, tanggal 24 juni klo gak salah. Harusnya, gw ud bertemu dan membahas perizinan gw ini dengan bos gw dari jam 10.07. Namun, karena beliau sibuk, gw harus menunggu sampai jam 11.00. Dan klo gak salah, begini salah satu potongan percakapannya:

A : “Kak, boleh ngobrol sebentar gak…?”
B : “Boleh, rahasia…?”
A : “Saya membagi level rahasia menjadi 7 level. Dan, ini level ke-7.”

Truz, gw sm bos gw itu ngobrol panjang scara 4 mata (bukan acara TV y…) di suatu ruangan. Gw menceritakan mengapa gw harus pergi ke Ciater dan beliau pun menceritakan apa aja yang bisa gw dapatkan seandainya gw mengikuti acara institusi gw itu. Dan, Alhamdulillah percakapan yang cukup panjang itu berakhir dengan diizinkannya gw ke RISMA (thx, Bos…).

Ternyata, gak sampai di situ perjuangan gw. Waktu Pleno panitia OKK FKM sebelum Welcome Maba (Ini acara buat menyambut mahasiswa baru UI, khususnya FKM), PO OKK FKM (Buat anak 8, jangan terkecoh dgn istilah ini. Ini bukan singkatan dari Pengurus OSIS tapi singkatan dari Project Officer alias ketua panitia) menyatakan kalo yang gak bisa ikut acara Welcome Maba, harus izin langsung ke beliau secara empat mata. Wah, berarti izin gw ke Koor. Komdis percuma dunk. Ya sudah lah, intinya gw harus berjuang lagi mendapatkan izin sang PO OKK. Lalu pada suatu malam, tepatnya setelah salat Isya atau Maghrib (Gw lupa mana yang bener), gw ngomong langsung ke beliau. Blablablabla, akhirnya gw diizinkan. Huaaaaaa, ternyata lebih mudah minta izin langsung ke sang Project Officer.

Singkat cerita, tanggal 2 Juli malam hari, gw berkomunikasi lagi sama Liza. Gw tanya ke dia apa yang harus gw bawa ke Ciater. Niatnya sih cuma bawa 1 tas, tapi ujung-ujungnya bawa 2 tas juga. Besoknya alias tanggal 3 Juli gw tiba di SMA 8 jam 7 pagi. Dan, gw sudah melihat ada Liza n Nasrul menunggu di depan mesjid. Truz, kita nungggu sampai teman2 serombongan lainnya datang, salah 1 nya Ari SP 42 (Wah, gw harus ketemu sm dia rupanya, haha). Dan, kami pun berangkat menuju lokasi RISMA naik bus nya SMA 8.

Singkat cerita lagi, hari Minggu tanggal 5 Juli 2009, semua Sainsta dari SP 45, 44, 43, 42, 41, 40, 39, 35, dan tentunya gw sendiri, si Penumpang Gelap (Kayaknya istilah ini akan gw ingat terus...) berkumpul di villa nya para wanita untuk sharing dan sesi alumni. Pada awalnya, gw merasa baik2 aja dengan suasana perkenalan karena hanya lempar-lempar pulpen ke badan orang (Kalo lempar piring kan serem y, haha....), sebutkan karakter yang dilempar, lalu memperkenalkan diri. Suasana mulai berubah ketika masuk sesi sharing, lebih tepatnya antara SP 44 & 45, dengan kata lain antara yang mengader dengan yang dikader. Ari menjadi moderator di sini. Perjanjiannya, kedua belah pihak harus saling jujur mencurahkan sgala yang ada di hati mereka tentang apa yang mereka rasakan slama ini di SP. Yang memulai pembicaraan ini adalah Rendra yang dengan suara yang agak tertahan mengungkapkan perasaannya (dimohon sebelum membaca note gw ini, alangkah baiknya membaca notenya Ari yang juga tentang RISMA kemarin. Dan Anda akan tahu ceritanya...). Lalu, ada Hanifi, Pras, Jola , dan lainnya yang bergantian berbicara (Gw sebenernya juga lupa siapa aja yang ngomong n urutannya. Maaf y...). Dan, Rendra pun berbicara lagi sampai akhirnya dia tak mampu untuk menahan tangisnya. Intinya, yang gw tangkap dari apa yang disampaikan oleh Rendra, dia merasa berat dan tertekan menjalani semua proses ini dan merasa gak yakin klo angkatannya, SP 45, mampu mengemban amanah ketika sudah memegang kendali nantinya. Setelah itu, dunia menjadi terasa lebih cepat berputar. SP 39 turun tangan untuk berbicara tentang pandangan mereka tentang RISMA ini. Mereka pun meminta pertanggungjawaban dari apa yang tertulis di spanduk RISMA (gw lupa apa tulisannya, intinya tentang mempererat silaturahmi kayaknya...). Yang gw tangkap dari apa yang mereka sampaikan, rasa kekeluargaan dan persaudaraan yang menjadi ciri SP slama ini kian memudar.

Dunia pun trasa berputar makin cepat lagi. Emosi jiwa, ungkapan hati dari para Sainsta pun kian terasa di rungan itu. Para alumni berkeras untuk pulang dan membawa RISMA bersama mereka, tangis Rendra yang kian tak tertahan, belum lagi isak tangis dari para wanita yang berkali-kali berkata “gw sayang SP”, Ari yang terlihat kebingungan dalam mengendalikan suasana, ungkapan hati dari Rizti yang gak gw duga bisa gw dengar, dan lain-lain. Akhir cerita, para alumni yang awalnya berniat untuk pulang itu pun kembali ke ruangan. Spanduk RISMA dibentangkan di tengah ruangan. Lalu terdengar, “Ada yang mau bantu gw buat pegang spanduknya?” Anak-anak SP 45 memegang spanduk sisi kiri dan SP 44 memegang spanduk dari sisi kanan. Lalu terdengar lagi ucapan, “Gw titip RISMA...”. Dan, malam itu pun berakhir dengan senyum bahagia yang menggores wajah mereka, para Sainsta. Bersalaman, berpelukkan, tersenyum, dan tertawa. Akhirnya, gw melihat lagi SP yang gw kenal itu. SP yang kekeluargaan dan persaudaraannya itu menembus batas usia dan waktu.

Peristiwa ini pun tak ubah layaknya mimpi atau bahkan de ja vu buat gw. Karena percaya atau tidak, selama beberapa detik sebelum peristiwa pembentangan spanduk, gw melihat para Sainsta berkumpul membentuk lingkaran kayak mengelilingi sesuatu di tengahnya. Truz gw melihat mereka tersenyum bahagia. Dan, gw berada di luar lingkaran mereka untuk melihat mereka bahagia. Yup, gak disangka apa yang sekilas gw lihat dan secepat kilat terlintas dalam pikiran gw itu benar2 terjadi. Jujur, gw pun akhirnya gak bisa menahan air mata bahagia membelah pipi gw (Akhirnya setelah sekian lama gw menangis juga. Maaf y klo agak melo…). Gw pun akhirnya menyadari dan tahu mengapa gw memutuskan untuk ikut RISMA ini. Gw yakin kalo Allah ingin menunjukkan sesuatu ke gw. Yang Maha Kuasa ingin menunjukkan sisi lain dari kehidupan manusia yang mungkin belum gw sadari dan sering gw lupakan. Hal itu adalah KEKELUARGAAN, PERSAUDARAAN, CINTA, dan KASIH SAYANG. Ya, Allah memang penyayang hamba-Nya. Gw memang manusia yang mungkin sering melupakan nikmat-Nya sampai akhirnya gw ditunjukkan nikmat-Nya yang indah itu. Seperti setetes air yang membasahi relung jiwa gw yang sudah lama kering akan rasa syukur. Alhamdulillah….

Pada akhirnya, yang bisa gw ambil dari semua kejadian ini adalah jangan sampai kau menghancurkan rasa kekeluargaan yang telah ada sebelum kau pun menyadarinya. Ingat, rasa kekeluargaan itu sama sekali tidak dibatasi ruang, waktu, usia, perbedaan, dan pandangan hidup. Rasa kasih sayang dan kekeluargaan itu mampu menyatukan segala jurang perbedaan. Singkat pesan dari gw untuk semua Sainsta, gw mohon jagalah identitas asli dari salah satu subsi terbaik di SMA 8 ini. Jangan sampai gw kehilangan SP yang selama ini gw kenal. SP yang terbangun bukan hanya karena kapasitas intelekual dari setiap otak anggotanya, tetapi juga dari rasa kekeluargaan yang hidup di hati setiap anggotanya. Mungkin gw bukan seorang Sainsta. Mungkin gw hanyalah seorang simpatisan, mud-blooded, penumpang gelap, atau apa lah namanya. Mungkin SP gak akan pernah punya ruang untuk menampung orang-orang seperti gw. Namun, ingat 1 hal. SP selalu memiliki ruang di hati gw…

FIN.

(Kalo misalnya ada salah kata, salah cerita, salah urutan, dan ada pernyataan2 yang menyinggung pihak2 yang tersangkut cerita ini, harap untuk dimaafkan karena note ini hanyalah pandangan dari seorang Arga Buntara. Terima kasih semuanya…)

Read More......